Ku awali kisahku dengan sebuah pengenalan, Aku Kamilla. Hanya seorang anak yang berpostur tinggi kurus. Aku cenderung pendiam, cengeng, dan sering sakit-sakitan. Tapi aku bisa dikategorikan siswa pintar menurut guruku. Mereka sering berucap “Air tenang menghanyutkan” ketika mereka membicarakan aku. Dan, aku bisa dikatakan anak yang paling PELIT. Aku selalu pelit setiap Ujian. Tidak pernah mencontek ataupun memberikan contekan kepada kawanku, sedikitpun!
Sebelumnya aku bersekolah di SMPN 02 PUGER, aku terpaksa pindah SEKOLAH, hanya dengan 1 alasan saja. Itu semua karena aku jatuh sakit terlalu lama. Hampir 2 bulan terbaring sakit. Tepat 15 februari 2007, terjadilah sebuah perpisahan. Tangis pilu saat aku harus meninggalkan kawan-kawanku, sahabatku, dan semuanya di SMPN. Dan Hari itu pula, semua menjadi saksi saat aku pertama kali menginjakkan kaki dan bersekolah di SMP ALHIDAYAH.
Hari pertama di ALHIDAYAH, sangat membosankan. Aku tidak punya kawan, tidak bisa bergurau bebas, tidak bisa curhat, dan masih banyak hal yang membosakan lagi. Yang ku dengar, ku lihat, dan kurasa setiap hari hanya celoteh-celoteh tak sedap dari kawan-kawan baruku, terlebih lagi dewan guru. Bahkan dari mereka ada yang bilang kalau aku tidak punya mata, tidak bisa melihat hal yang lebih baik. Namun beberapa hari di Alhidayah, telingaku sudah cukup kebal dengan berbagai celoteh mereka semua. Aku berusaha menganggap mereka hanya seperti anjing menggonggong saja.
Sekitar pertengahan maret, ada UTS (Ulangan tengah semester). Aku yang sebelumnya hanya mengenal Pendidikan Islam terpadu saat di SMPN, benar-benar terasa sedikit bingung saat aku harus dihadapkan dengan 5 pelajaran PAI sekaligus. Jujur saja, aku mengenal pelajaran Fiqih, Qur’an hadits, Aswaja, SKI, dan Bahasa arab, terakhir kali hanya ketika aku masih TPQ waktu kelas 5 SD. Aduuhh..kacau !. tapi aku tetap mengerjakan semua soal – soal UTS dengan penuh semangat. Aku selalu selesai lebih dulu saat mengerjakan soal. Aku tinggalkan begitu saja kawan-kawanku yang masih sibuk mencari contekan kesana-kemari. Tidak sedikit dari mereka yang memanggilku beberapa kali untuk minta jawaban dari soal-soal tersebut, namun aku cuek saja. Karena aku paling tidak suka hal Mencontek saat ujian.
Saat penerimaan raport UTS, aku tercengang tidak percaya. Aku terkejut saat wali kelasku membacakan hasil terbaik dari UTS tersebut. Berulang kali namaku disebut, dan aku ternyata bisa menguasai 95% dari semua pelajaran, termasuk 5 pelajaran PAI yang sebelumnya aku tidak pernah mengenal lebih lanjut. Bahkan kawan-kawanku yang telah lama bersekolah di alhidayah, nilai-nilai mereka masih jauh dibawah nilaiku. Aku juga baru sadar, ternyata aku masuk di kelas yang levelnya paling rendah alias kelas yang penghuninya paling tidak bermutu.
Ya Allah..pantas saja. Aku siswi baru, dan merasa tidak punya saingan di kelas itu. Dan sejak hari itu, mereka mulai baik terhadapku. Celoteh tak sedap yang biasanya sering ku dengar, kini berganti dengan ucapan-ucapan kagum dan heran dari mereka. Tak sedikit pula dari mereka yang ingin belajar bersamaku.Dan saat itulah, aku baru menemukan sosok Kawan yang sesungguhnya.
Seperti biasanya, setelah UTS selalu ada classmeeting. Mungkin selama 1 minggu jarang ada pelajaran. Rasa bosan akhirnya kembali kurasakan. Aku yang biasanya sebagai siswa aktif saat di SMPN, sungguh sangat berbeda saat di ALHIDAYAH. Kegiatan di sekolah tiap hari hanya datang, duduk, diam, belajar, dan pulang. Padahal biasanya aku mengikuti banyak kegiatan seperti Pengurus Mading, Karya Ilmiah Remaja, PMR, hingga Pelatihan baris-berbaris.
Begitu banyak perbedaan diantara 2 sekolah tersebut, entah karena apa. Aku sendiri tidak mengerti. Aku berusaha menikmati, dan tetap mempertahankan prestasiku meski di ALHIDAYAH tetap tidak ada satupun kegiatan ekstrakurikuler.
Semua kembali berubah saat aku naik ke kelas 3. Aku tidak lagi dikelas rendahan. Tapi aku masuk kelas unggulan. Tentu aku merasa bahagia. Aku merasa ada persaingan yang sempurna. Aku juga menemukan beberapa sosok sahabat terbaik yang akhirnya sepakat membuat sebuah Genk. Genk “KakaWidii’s_forever” yang terdiri dari 5 anak itulah yang membuat aku tidak lagi merasa bosan. Setiap hari penuh tawa, canda, dan kebersamaan. Meski rumah kami berjauhan, tapi setiap masuk gerbang sekolah dan pulang sekolah, kami selalu bersamaan. Aneh memang, padahal kami berlima juga beda kelas. Tapi kebersamaan itu tidak bisa berlangsung lama, karena kelas 3 sudah disibukkan dengan berbagai ujian di sekolah. Mulai dari Try out, Ujian Praktek, Ujian Sekolah, Ujian Maarif, Tes Potensi Akademik, dsb. Kami juga tahu, meski suatu saat kami akan berpisah. Berpisah karena perbedaan tujuan. Dan kami berlima menghargai hal tersebut. Sudah menjadi resiko kami berlima.
Dengan berbagai kesibukan belajar kala itu, aku tidak lagi merindukan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang dulu pernah aku ikuti. Aku fokus belajar dan belajar. Menurutku, ALHIDAYAH juga hampir tidak kalah dari sekolah-sekolah lain yang selokal. Aku juga baru sadar, sebenarnya sekolah dimana saja, itu pada dasarnya sama. Sama-sama saling menuntut ilmu, hanya saja tergantung dari cara dan niat masing-masing. Aku mulai bangga sekolah di ALHIDAYAH, tidak lagi aku resah. Yang ada dipikiranku saat itu hanya sebuah kata “LULUS”, terlebih lagi aku ingin mengembalikan nama baik ALHIDAYAH di mata masyarakat sekitar.
Dan Ujian Nasional pun tiba. Dengan penuh semangat, optimis, dan keyakinan, aku mengahadapi ujian. Hanya berbekal belajar, do’a, dan kebersamaan, semua berjalan lancar hingga ujian selesai. Ketika hasil ujian telah di umumkan, disitulah terjadi kesan yang begitu mendalam. Aku masih ingat betul, saat menatap wajah kawan-kawan yang penuh ketegangan.
Aku sendiri sebenarnya juga tegang. Sampai-sampai kawanku ada yang menangis bahkan pingsan karena sangat tegang dan takut. Ketika surat kelulusan dibagikan dan dibuka bersama-sama, disitulah kami berteriak hampir bersamaan .“Aku LULUS..! Aku LULUS “. Tangis bahagia menyertai saat saling berpelukan. Aku bertambah bahagia, ketika kepala sekolah mengumumkan bahwa aku masuk nominasi 10 besar dan aku masuk urutan ke 8. Ya allah..Sungguh hal yang tak akan terlupakan.
Aku bangga, meski aku sekolah di alhidayah. Sekolah yang dulunya sama sekali tidak pernah aku impikan. Aku tetap bisa membuktikan, kalau aku bisa mempertahankan prestasiku di Alhidayah. Bahkan tidak hanya mempertahankan, aku bisa menaikkan prestasiku meski belum terlalu tinggi. tapi setidaknya, perjuangan aku dan mereka semua bisa sedikit mengembalikan nama baik ALHIDAYAH di mata masyarakat luas.
Dari ALHIDAYAH, aku mempunyai banyak teman, Aku temukan sahabat terbaik, aku temukan hal-hal baru yang sebelumnya aku tidak tahu, aku dapatkan ilmu yang lebih banyak lagi, Dan setiap melihat nilai-nilai ujianku kala itu, aku selalu berkata dalam hati, “Aku bangga pernah sekolah di ALHIDAYAH”.
********************
Tulisan ini aku buat pertama kali, Kalau tidak salah sekitaran bulan Mei 2014. Ketika seseorang yang sangat ku hargai rela berbagi ilmu dan mengajariku menulis. Bukan hanya aku, tapi murid-murid kelas menulis. "De'.. sebagai penulis pemula, tulisanmu sudah sangat bagus. Kamu hanya perlu terus belajar dan berlatih"
fuhh rasanya seperti tidak percaya ketika beliau berucap seperti itu padaku. Senang bukan main. Terlebih saat itu aku sudah diam-diam memendam perasaan terhadapnya. hahay.. Terimakasihh untuk segalanya :) :* +Imam Sujaswanto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar