"Enak, ya. Jadi Seperti Miss Kamilla. Kerjanya cuma duduk-duduk santai doank. Digaji lagi.." Begitu celetuk yang sering ku dengar dari beberapa siswi setiap pagi ketika aku sampai di sekolahan dan memarkir motor supra-ku.
Sungguh suasana yang jauh berbeda dari tempat kerjaku yang dulu. Sebelumnya aku bekerja di sebuah percetakan dekat rumahku. Bekerja di percetakan memang menyenangkan. Meskipun seringkali harus lari terbirit karena deadline terus mengejar tanpa peduli rasa lapar melilit. Tidak jarang pula dimarahi
Juragan karena kerjanya terlalu lemot dan hasilnya kurang maksimal. Belum lagi kalau ada
Customer yang komplain karena pelayanan kami kurang sesuai dengan yang mereka inginkan. Duh, siap-siap saja mendengarkan petuah dari
Senior yang sepanjang rel kereta api.
 |
| Kenangan makan siang bersama di percetakan |
Sayangnya, aku hanya bertahan setahun saja sebagai pramuniaga. Akhirnya aku memilih resign dengan alasan akan menyesuaikan diri ke Lembaga pendidikan dan ingin melanjutkan studi-ku ke perguruan tinggi. Kebetulan, saudara laki-laki-ku Adalah salah satu pendidik di suatu lembaga pendidikan. Beliau yang sangat berjasa membawaku ke gerbang lembaga tersebut.
*************
Tidak terasa. Sudah hampir dua tahun aku berada disini. Di sebuah ruang berbentuk persegi panjang yang cukup luas untuk sekedar bermain futsal, *eh. Didampingi beberapa rak yang berjejer rapi. Berhiaskan ribuan koleksi buku yang berderet manis sesuai klasifikasi. Iya, perpustakaan sederhana di sebuah sekolah menengah pertama tempatku menimba ilmu tempo dulu.
 |
| Perpustakaan sekolahku, Sederhana namun menyimpan banyak cerita |
Tidak pernah terfikir olehku, sedikitpun. Menjadi
Pustakawati tidak pernah masuk daftar cita-citaku dari dulu. Aku benar-benar butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Apa boleh buat, toh ini sudah menjadi pilihanku. Ya dijalani saja..
Lagipula tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi, karena aku sudah mengenal semua yang ada disini. Orang-orang yang dulunya telah berjasa berbagi ilmu dan mendidikku tanpa jemu, kini kami menyatu seperti keluarga di sebuah lembaga. Guruku kini menjadi saudaraku, sahabatku, temanku, Namun tetap tak mengurangi rasa hormatku kepada beliau-beliau. Ini Merupakan suatu kehormatan dan keistimewaan tersendiri bagiku.
Menjadi seorang pustakawati tidak semudah yang kebanyakan orang katakan. Sebagian orang menganggap kalau pekerjaan pustakawati hanya duduk-duduk santai. Padahal tidak selalu seperti itu. Yang jelas Pustakawati mempunyai tanggung jawab penuh terhadap segala hal yang berkaitan dengan perpustakaan.
Bayangkan saja, Pustakawati harus mempunyai data detail terkait inventaris perpustakaan. Seperti kondisi buku, papan data, jumlah rak, jumlah buku, dsb. Pustakawati harus tahu perubahan kondisi buku, Misalnya berapa jumlah buku yang hilang, jumlah buku yang rusak, serta berapa jumlah buku yang dalam kondisi baik.
Tidak hanya itu, pustakawati juga harus hafal seluruh judul buku yang ada, harus tahu letak-letak bukunya, harus paham setidaknya sedikit isi dan maksud dari buku-buku yang ada. Parahnya, harus bisa menjawab setiap pengunjung yang membutuhkan informasi tentang buku yang ingin dicari. Untungnya ya, otak ini ciptaan
Gusti Allah. Apa jadinya kalau buatan bengkel coba? paling-paling sudah
Hank. hahay.
Aku sebagai pustakawati juga tanpa terlewatkan untuk mendata setiap aktivitas perpustakaan, seperti keuangan, daftar pengunjung, daftar peminjam, dsb. Grafik Pengunjung dan Peminjam juga selalu ku buat setiap bulannya. Yang sedikit
kuwalahan ketika mengerjakan katalog. Ada sebagian buku yang belum ada katalognya. Aku juga sering menemukan buku-buku yang masih belum memiliki
Nomor seri dan stempel. Tidak sedikit pula buku yang tidak berlabel dan bereferensi lengkap.
 |
| Suasana perpustakaan sekolahku, sederhana, namun rapi dan cukup menyenangkan |
Pustakawati tidak hanya merawat dan menjaga buku. Yang pastinya juga harus rajin membaca. Harus selalu kreatif dan inovatif. Harus berwawasan luas. Apa jadinya kalau pustakawati harus clingak-clinguk setiap ada pengunjung yang bertanya tentang sesuatu hal? wehh.. Mau taruh dimana muka saya.. hohoo
Ada lagi masih loh, pustakawati harus punya kumpulan karya ilmiah tentang perpustakaan, resensi buku, indeks buku, dan bibliography. welehh.. harus di resensi satu persatu yaa buku-buku yang jumlanya sekitar 2000 judul ini?
Edyan. Tapi ya tetap dibuat santai saja, satu persatu. sedikit demi sedikit lama-lama kan kelar juga. bukan begitu?
Satu hal yang belum bisa aku taklukan sampai saat ini, yaitu menumbuhkan minat baca siswa. Itu PR yang sangat sulit. Bayangkan, sudah berbagai cara pernah ku lakukan. Tapi, Nihil. Tidak berhasil. Mungkin teman-teman ada yang mau memberi saran?
 |
| Siswa yang sudah mempunyai minat baca |
Terkadang aku sampai geleng-geleng kepala dan
Ngelus Dodo melihat kelakuan anak-anak di perpustakaan. Aku rasa, aku sudah cukup sabar untuk menyikapi mereka. Aku tidak terlalu memberikan banyak peraturan agar lebih banyak yang berani dan sadar untuk berkunjung dan membaca di perpustakaan.
Siapa yang menduga, mereka malah menyalahgunakan kesabaranku untuk bertingkah di luar batas. Sebagian siswi ada yang menjadikan perpustakaan sebagai tongkrongan untuk menggosip. Ada juga yang menganggap bahwa perpustakaan adalah tempat untuk anak-anak yang tidak punya teman. Lah, Ada-ada saja. Tapi tidak sedikit pula yang rajin ke perpustakaan untuk meminjam buku dan mengerjakan tugas.
Aku yang mempunyai sifat tidak tega mana bisa memberikan sanksi yang akan membuat mereka jera. Denda untuk pelanggaran yang sebesar Rp. 500-pun kadang aku bebaskan dengan terpaksa. Tetapi untuk siswa yang sering berbuat pelanggaran, aku harus tegas. Tidak jarang kalau aku sering marah-marah kepada si
Pelanggar. Sampai-sampai ada yang menyebutku
"Miss Galak".
Aku tidak menyalahkan siapapun. Terlebih menyalahkan mereka, apa gunanya. Sampai kapanpun, ini tetap PR buatku. Cambuk yang akan membuatku terus bersemangat untuk terus berinovasi. Pantang menyerah meskipun raga mulai lelah. Yang pasti, tetap bersyukur apapun yang terjadi.
Beginilah, Manisnya menjadi pustakawati. Ya, manisnya kopi pahit gitu.
***************
Apapun itu, Saya tetap tidak lupa untuk bersyukur. Tiada henti berterimakasih kepada Gusti Allah, Karena telah mengirimkan orang-orang yang sangat menyayangi saya. Terimakasih Ayah, Ibu, Tanpa kalian aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini.
Terimakasih saya ucapkan untuk Dewan guru SMP, yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengabdikan diri disini. Suatu Kehormatan untuk berkecimpung dengan buku dan siswa-siswa yang penuh kejutan.
Sekali lagi, Terimakasih untuk
Juragan percetakan. Banyak sekali pengalaman yang telah saya dapat dari situ. Dan tak lupa untuk teman-teman seperjuangan yang telah menciptakan kisah berkesan selama saya disana.
+Rohma azha, Mas supri, Mbak Ella, Fhenty, Mas Nuril, Mas Puji, dkk.
Teruntuk Abang saya Imam Khoiri, terimakasih banyak. Berkat
Sampean saya bisa berdiri disini untuk terus melakukan perjuangan yang menyenangkan ini.
Terimakasih juga, untuk seseorang yang selalu memberikan warna kepada hidup saya. Tanpa-nya, saya tidak akan mampu melakukan semua ini. terimakasih, semangatku :*
Terimakasih pula untuk semua siswa-siswi yang sangat saya sayangi. Teruslah semangat untuk menuntut ilmu.
Bersyukurlah. Semua akan terasa lebih indah dan menyenangkan dengan ikhlas dan bersyukur. Insyaallah.