Jumat, 05 Februari 2016

Manis Pahit Menjadi Pustakawan Pustakawati - Kisahku 1

"Enak, ya. Jadi Seperti Miss Kamilla. Kerjanya cuma duduk-duduk santai doank. Digaji lagi.." Begitu celetuk yang sering ku dengar dari beberapa siswi setiap pagi ketika aku sampai di sekolahan dan memarkir motor supra-ku.

Sungguh suasana yang jauh berbeda dari tempat kerjaku yang dulu. Sebelumnya aku bekerja di sebuah percetakan dekat rumahku. Bekerja di percetakan memang menyenangkan. Meskipun seringkali harus lari terbirit karena deadline terus mengejar tanpa peduli rasa lapar melilit. Tidak jarang pula dimarahi Juragan karena kerjanya terlalu lemot dan hasilnya kurang maksimal. Belum lagi kalau ada Customer yang komplain karena pelayanan kami kurang sesuai dengan yang mereka inginkan. Duh, siap-siap saja mendengarkan petuah dari Senior yang sepanjang rel kereta api.

Kenangan makan siang bersama di percetakan
Sayangnya, aku hanya bertahan setahun saja sebagai pramuniaga. Akhirnya aku memilih resign dengan alasan akan menyesuaikan diri ke Lembaga pendidikan dan ingin melanjutkan studi-ku ke perguruan tinggi. Kebetulan, saudara laki-laki-ku Adalah salah satu pendidik di suatu lembaga pendidikan. Beliau yang sangat berjasa membawaku ke gerbang lembaga tersebut.

*************

Tidak terasa. Sudah hampir dua tahun aku berada disini. Di sebuah ruang berbentuk persegi panjang yang cukup luas untuk sekedar bermain futsal, *eh. Didampingi beberapa rak yang berjejer rapi. Berhiaskan ribuan koleksi buku yang berderet manis sesuai klasifikasi. Iya, perpustakaan sederhana di sebuah sekolah menengah pertama tempatku menimba ilmu tempo dulu.

Perpustakaan sekolahku, Sederhana namun menyimpan banyak cerita

Tidak pernah terfikir olehku, sedikitpun. Menjadi Pustakawati tidak pernah masuk daftar cita-citaku dari dulu. Aku benar-benar butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Apa boleh buat, toh ini sudah menjadi pilihanku. Ya dijalani saja..

Lagipula tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi, karena aku sudah mengenal semua yang ada disini. Orang-orang yang dulunya telah berjasa berbagi ilmu dan mendidikku tanpa jemu, kini kami menyatu seperti keluarga di sebuah lembaga. Guruku kini menjadi saudaraku, sahabatku, temanku, Namun tetap tak mengurangi rasa hormatku kepada beliau-beliau. Ini Merupakan suatu kehormatan dan keistimewaan tersendiri bagiku.

Menjadi seorang pustakawati tidak semudah yang kebanyakan orang katakan. Sebagian orang menganggap kalau pekerjaan pustakawati hanya duduk-duduk santai. Padahal tidak selalu seperti itu. Yang jelas Pustakawati mempunyai tanggung jawab penuh terhadap segala hal yang berkaitan dengan perpustakaan.

Bayangkan saja, Pustakawati harus mempunyai data detail terkait inventaris perpustakaan. Seperti kondisi buku, papan data, jumlah rak, jumlah buku, dsb. Pustakawati harus tahu perubahan kondisi buku, Misalnya berapa jumlah buku yang hilang, jumlah buku yang rusak, serta berapa jumlah buku yang dalam kondisi baik.

Tidak hanya itu, pustakawati juga harus hafal seluruh judul buku yang ada, harus tahu letak-letak bukunya, harus paham setidaknya sedikit isi dan maksud dari buku-buku yang ada. Parahnya, harus bisa menjawab setiap pengunjung yang membutuhkan informasi tentang buku yang ingin dicari. Untungnya ya, otak ini ciptaan Gusti Allah. Apa jadinya kalau buatan bengkel coba? paling-paling sudah Hank. hahay.

Aku sebagai pustakawati juga tanpa terlewatkan untuk mendata setiap aktivitas perpustakaan, seperti keuangan, daftar pengunjung, daftar peminjam, dsb. Grafik Pengunjung dan Peminjam juga selalu ku buat setiap bulannya. Yang sedikit kuwalahan ketika mengerjakan katalog. Ada sebagian buku yang belum ada katalognya. Aku juga sering menemukan buku-buku yang masih belum memiliki Nomor seri dan stempel. Tidak sedikit pula buku yang tidak berlabel dan bereferensi lengkap.

Suasana perpustakaan sekolahku, sederhana, namun rapi dan cukup menyenangkan
Pustakawati tidak hanya merawat dan menjaga buku. Yang pastinya juga harus rajin membaca. Harus selalu kreatif dan inovatif. Harus berwawasan luas. Apa jadinya kalau pustakawati harus clingak-clinguk setiap ada pengunjung yang bertanya tentang sesuatu hal? wehh.. Mau taruh dimana muka saya.. hohoo

Ada lagi masih loh, pustakawati harus punya kumpulan karya ilmiah tentang perpustakaan,  resensi buku, indeks buku, dan bibliography. welehh.. harus di resensi satu persatu yaa buku-buku yang jumlanya sekitar 2000 judul ini? Edyan. Tapi ya tetap dibuat santai saja, satu persatu. sedikit demi sedikit lama-lama kan kelar juga. bukan begitu?

Satu hal yang belum bisa aku taklukan sampai saat ini, yaitu menumbuhkan minat baca siswa. Itu PR yang sangat sulit. Bayangkan, sudah berbagai cara pernah ku lakukan. Tapi, Nihil. Tidak berhasil. Mungkin teman-teman ada yang mau memberi saran?



Siswa yang sudah mempunyai minat baca
Terkadang aku sampai geleng-geleng kepala dan Ngelus Dodo melihat kelakuan anak-anak di perpustakaan. Aku rasa, aku sudah cukup sabar untuk menyikapi mereka. Aku tidak terlalu memberikan banyak peraturan agar lebih banyak yang berani dan sadar untuk berkunjung dan membaca di perpustakaan.

Siapa yang menduga, mereka malah menyalahgunakan kesabaranku untuk bertingkah di luar batas. Sebagian siswi ada yang menjadikan perpustakaan sebagai tongkrongan untuk menggosip. Ada juga yang menganggap bahwa perpustakaan adalah tempat untuk anak-anak yang tidak punya teman. Lah, Ada-ada saja. Tapi tidak sedikit pula yang rajin ke perpustakaan untuk meminjam buku dan mengerjakan tugas.

Aku yang mempunyai sifat tidak tega mana bisa memberikan sanksi yang akan membuat mereka jera. Denda untuk pelanggaran yang sebesar Rp. 500-pun kadang aku bebaskan dengan terpaksa. Tetapi untuk siswa yang sering berbuat pelanggaran, aku harus tegas. Tidak jarang kalau aku sering marah-marah kepada si Pelanggar. Sampai-sampai ada yang menyebutku "Miss Galak".

Aku tidak menyalahkan siapapun. Terlebih menyalahkan mereka, apa gunanya. Sampai kapanpun, ini tetap PR buatku. Cambuk yang akan membuatku terus bersemangat untuk terus berinovasi. Pantang menyerah meskipun raga mulai lelah. Yang pasti, tetap bersyukur apapun yang terjadi.
Beginilah, Manisnya menjadi pustakawati. Ya, manisnya kopi pahit gitu.





***************
Apapun itu, Saya tetap tidak lupa untuk bersyukur. Tiada henti berterimakasih kepada Gusti Allah, Karena telah mengirimkan orang-orang yang sangat menyayangi saya. Terimakasih Ayah, Ibu, Tanpa kalian aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. 

Terimakasih saya ucapkan untuk Dewan guru SMP, yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengabdikan diri disini. Suatu Kehormatan untuk berkecimpung dengan buku dan siswa-siswa yang penuh kejutan. 

Sekali lagi, Terimakasih untuk Juragan percetakan. Banyak sekali pengalaman yang telah saya dapat dari situ. Dan tak lupa untuk teman-teman seperjuangan yang telah menciptakan kisah berkesan selama saya disana. +Rohma azha,  Mas supri, Mbak Ella, Fhenty, Mas Nuril, Mas Puji, dkk.

Teruntuk Abang saya Imam Khoiri, terimakasih banyak. Berkat Sampean saya bisa berdiri disini untuk terus melakukan perjuangan yang menyenangkan ini.

Terimakasih juga, untuk seseorang yang selalu memberikan warna kepada hidup saya. Tanpa-nya, saya tidak akan mampu melakukan semua ini. terimakasih, semangatku :* 

Terimakasih pula untuk semua siswa-siswi yang sangat saya sayangi. Teruslah semangat untuk menuntut ilmu. 

Bersyukurlah. Semua akan terasa lebih indah dan menyenangkan dengan ikhlas dan bersyukur. Insyaallah. 





Kamis, 04 Februari 2016

Menikmati Terik Mentari di Pantai Cerah - Puger (Jember-Jawa Timur)

Pantai Cerah atau biasa disebut Pancer  merupakan salah satu objek wisata yang terletak di ujung selatan kota jember. Tepatnya di Kecamatan Puger. Sesuai dengan namanya, Sudah bisa dibayangkan bahwa di pantai yang berada di kampung nelayan ini memang sangat cerah alias terik matahari begitu terasa menyengat. Namun Panas-nya si Pancer ini tidak mengurangi semangat para pengunjung untuk tetap mendatangi tempat ini. Bahkan setiap harinya tidak pernah sepi dari pengunjung. Sebenarnya pantai ini sangat mempesona apabila lebih dijaga kebersihan serta kelestariannya. Hanya dengan biaya masuk Rp. 5.000 saja, kalian sudah bisa menikmati panorama pantai berpasir hitam nan elok ini.

Akses menuju pantai juga tidak sulit. Hanya butuh waktu sekitar 15 Menit saja dari Kecamatan Puger. Bisa memakai mobil/motor jenis apapun. Kecuali bus dan truk pastinya, hohoo. Lebih asyik lagi untuk yang hobi bersepeda, bisa menikmati udara laut dan hangatnya mentari lebih lama sambil melihat perahu-perahu nelayan yang berjejer rapi di tepian sungai. 
Kapal nelayan yang sedang sandar
Untungnya saya bukan type wanita yang takut dengan terik matahari. Saya cukup menikmati apapun yang berada disini. Tidak perlu memakai Sunblock ataupun topi pantai. Cukup helm dan sandal jepit saja. Saya dan kawan-kawan berangkat menuju kemari tepat pukul 13.30 WIB. Sebenarnya sih, panas bukan main. Tetapi saya terus menikmati deburan ombak yang semakin siang semakin tinggi. 
Karena Lupa membawa topi pantai, saya terpaksa memakai helm. hehee
Duduk bersantai di pemecah ombak ini benar-benar menenangkan. panas mentari bercampur dengan angin laut yang lumayan kencang. hem, sungguh sensasi tersendiri bagi saya dan kedua teman saya. Tentunya tidak mengurangi hasrat saya dan kawan-kawan untuk terus berfoto ria walaupun hanya bermodalkan kamera dari hape butut saya. hahay

Berfoto ria menikmati terik mentari yang semakin menyengat
Jujur. Saya memang orang puger, tetapi  belum pernah naik perahu. Entah kenapa, ada sedikit phobia terhadap perahu. Kalau kalian ingin naik perahu boleh kok. Tapi ya kalian harus merogoh kocek lagi. huhuu. Biasanya, perahu ini akan membawa kalian menuju ke Cagar Alam Kucur. 


Dinamakan Kecamatan Puger. Kata para sesepuh, sekitar abad ke 18 Pangeran Puger ditemani empat pengawalnya yakni Senopati Mataram Suryo Joto, Mbah Pancer Jenggot, Mbah Sindu Pramo dan Mbah Kucur melakukan tapa di pantat barat laut Jember, sehingga dinamakan Puger. Pangeran Puger mengakhiri tapanya dan kembali ke Mataram, tetapi pengawalnya tidak ikut melainkan menetap di Puger seperti Nusa Barong dan Kucur.

Petilasan di ujung pantai selatan Jember ini menjadi salah satu tujuan wisata batin. Pada hari-hari Kamis dan malam Jumat banyak pengunjung. Tiap 15 Muharam larung sesaji petik laut.

Ada keunikan dari pantai ini, yakni bisa mengubah bentuk, jika air-Iaut pasang maka pantai bisa jadi pulau karena daratannya landai. Dari jauh warnanya hijau kebiru-biruan, karena Kucur selalu diselimuti tumbuh-tumbuhan pantai dan semak belukar yang rimbun. Sedangkan warna kebiruan, karena daun yang menutupi pantai terkena pantulan air laut yang dipancarkan sinar matahari.

Waktu pagi menjelang fajar menyingsing, pengunjung bisa menyaksikan terbitnya matahari atau sore saat sang surya kemerahan pelan-pelan tenggelam. Pada bulan purnama pesisir pantai bercadas ini nampak seperti bongkahan emas murni yang melingkar di tepi pulau.

Pesisir ini rimbun ditumbuhi berbagai jenis pohon dari tanaman atau flora khas pantai Tanaman yang ada di sekitar pantai ini adalah sejenis klampis laut, nyamplung, pohon sawo kecik, trembesi, mahoni, sawo gunung, gayam,’ wimbo, mindi, akasia, waru rangkang, kakau, ketapang, sengon laut, balsa sungkai, glodokan tiang, kruing, simpur, merawan (dellia sp) dan tanjung (shoepea).

Binatang yang masih ada di sekitar hutan kijang, menjangan, monyet, kura-kura, pelajar banyak-berkemah dan bisa belajar menyatu dengan alam. Siswa yang berwisata dapat belajar tentang kehidupan binatang yang hidup di alam bebas sambil menikmati segarnya udara pantai.

Setelah puas berjelajah ke Pancer dan Kucur, jangan lupa membeli ikan laut yang masih segar. Kampung nelayan ini tidak hanya menyediakan ikan-ikan segar, namun juga menawarkan berbagai olahan hasil laut seperti Terasi dan Petis ikan. Soal harga, tak perlu dipertanyakan lagi. Sangat terjangkau. Tertarik untuk kemari? Cuz.. Tunggu apa lagi!! 

Rabu, 03 Februari 2016

Selecta Batu Malang - Menikmati Wisata Keluarga Ala Belanda

Ada yang sudah pernah kesini? Salah satu taman rekreasi keluarga yang populer di Kota Wisata Batu - Malang, Jawa Timur. Iya, Selecta. Taman rekreasi yang menggabungkan beberapa tempat menjadi satu ini, dulunya menjadi tempat istirahat para orang-orang Belanda. Dan pada akhirnya, nama Selecta itu diambil dari bahasa belanda yang artinya Pilihan.
Wihh.. Memang benar lho. Tempat ini adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan hari libur kalian bersama keluarga, sahabat, atau pasangan.

Saya sendiri sudah membuktikannya lho genk. Akhir mei 2015 saya mendapat kesempatan untuk mendampingi anak-anak didik saya untuk liburan di tempat indah ini. Hanya dengan Rp. 25.000 saja, kalian akan menikmati berbagai keindahan yang disuguhkan oleh si cantik Selecta. Menakjubkan.

Sudah menjadi hal biasa kalau Tempat wisata di Malang berlatar belakang pemandangan hijau. Namun di Selecta kamu akan menemukan beberapa hal yang tak ada di tempat lain. Inilah 8 alasan mengapa kamu perlu coba wisata keluarga ke Selecta :

1. Menikmati Keindahan Taman Bunga Ala Belanda
Hamparan Bunga Hortensia
Selain menyajikan panorama pegunungan, Selecta juga menghadirkan taman bunga yang nampak seperti pemandangan taman bunga di Belanda. Pemandangan hijau nampak cantik dengan warna-warni bunga yang tumbuh dengan subur di Selecta. Ada Banyak Jenis bunga disini, Namun yang paling saya sukai adalah bunga Hortensia ini. Tapi ingat ya genk, kita harus tetap menjaga keindahannya. Boleh saja berfoto, asal berhati-hati. Jangan sampai si Cantik hortensia ini rusak atau mati karena terinjak kaki-kaki para 4l4y. hihii..


Menikmati bekal makanan dengan menggelar di area taman dengan menggelar tikar, ini akan menjadi pertimbangan pengunjung yang akan ke sini. Jika di Jepang hanya sekali dapat menikmati piknik dengan pemandangan bunga sakura setahun sekali, di Selecta menawarkan itu sepanjang tahun. Atau pengunjung bisa menjadi seorang penunggang kuda dengan berkeliling taman. Menarik, Bukan?




2. Berpetualang Wahana Air Dengan Mata Air Pegunungan

Di tengah udara yang cukup dingin, Beranikah kalian menceburkan diri ke kolam renang selecta ini? hihi.. Karena kamu akan merasakan sensasi air kolam dengan air yang berasal langsung dari 3 mata air pegunungan. Air kolam selalu bersih, karena air tersebut selalu mengalir tiada henti.

Kalau saya sendiri sih tidak punya cukup nyali untuk bermain air disini. Selain karena saya tidak bisa berenang, tetapi juga karena udara dingin yang cukup merasuk. hahay. Tapi lihat, murid-murid saya tanpa ragu dan menunggu mereka langsung berebut untuk segera meluncur ke kolam.

Seperti melompat dari gedung ya.. 

3. Mencoba Wahana Bermain Yang Lumayan Memacu Adrenalin

Banyak wahana hiburan di Selecta yang bisa kamu coba ketika mulai jenuh berkeliling area perbukitan Selecta. Merasakan roller coaster, jet coaster mungkin sudah sering kamu rasakan di tempat lain. Namun di Selecta, kamu perlu berkesempatan melihat keindahan Selecta dari atas dengan bersepeda udara (Sky Bike). Ada juga Flying Fox, Sayangnya saya tidak punya cukup keberanian untuk wahana yang satu ini. hihii..
Saya sudah coba wahana anak-anak ini, seru loh ..

Sky Bike Selecta

4. Menjelajahi Agrowisata Petik Apel

Apel memang sudah menjadi icon kota Malang yang tak boleh di lewatkan. Selecta juga menyediakan Agrowisata petik apel. Jadi, Kalau ke Selecta wajib mengunjungi tempat yang satu ini. Untuk menuju kawasan ini, jalanan cukup terjal dan berliku-liku. Sebaiknya hati-hati. Atau bisa juga naik angkutan yang sudah di sediakan.

Cukup dengan membayar Rp. 20.000 kalian bisa memetik sendiri sekaligus menikmati apel-apel manis sepuasnya. Eiit.. tapi ingat, tidak boleh dibawa pulang ya. Kalau mau beli, boleh kok. per-Kg Rp. 20.000, relatif murah. Lumayan, buat oleh-oleh keluarga di rumah.

Kalo yang jago manjat pohon, disini juga bebas memanjat. Yang penting perhatikan, pilih ranting-ranting yang kuat. Wah.. kalau salah nanti ranting patah dan kalian bisa terjatuh genk. Kalo saya sih lebih milih pohon yang rimbun. Asyik, bisa makan apel sambil berteduh di bawah pohonnya. Uhuy, dijamin aman deh.






5. Menyaksikan Fashion Show Putri Bunga Selecta

Entah pada hari khusus atau memang setiap hari ditampilkan sebuah fashion show disini. Tapi yang jelas, ketika saya berkunjung kemari tiba-tiba ada acara fashion show. Keren juga tapi, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar ataupun berselfie dengan para putri bunga selecta yang cantik jelita. hehe.
Lihat saja, Ada beberapa siswa laki-laki saya yang memberanikan diri meminta foto bareng dengan putri bunga. Ada-ada saja.






6. Surganya Bagi Hobi Foto/Selfi

Sudah jelas, Selecta menyuguhkan Background yang cantik untuk berfoto ria. Untuk anak-anak sih biasanya lebih suka foto di patung Dinosaurus, Badak, Iguana, dll. Kalau saya sendiri, foto dimanapun oke saja. bahkan semua saya jelajahi untuk sekedar mengabadikan moment. hhiihii








7. Hotel Dan Resto Selecta

Buat para pengunjung/wisatawan yang datang dari jauh. Jangan Khawatir. Disini pun disediakan hotel dan Resto lengkap dengan berbagai fasilitas yang pastinya akan membuat kalian betah disini genk. Tak perlu risau, soal harga dijamin tidak akan menguras kantong kok.



8. Mampir Ke Alun-Alun Kota Wisata Batu

Kalo udah ke Selecta, Jangan lupa genk. Mampir ke Alun-Alun Kota Wisata Batu. Yang hobi shopping bisa berbelanja di Plaza dekat alun-alun. Plaza ini menyediakan berbagai oleh-oleh khas Kota Batu dengan harga-harga yang sangat terjangkau.

Sebenarnya lebih menarik kalau berkunjung ke alun-alun waktu malam hari. Setiap harinya, alun-alun ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Biasanya dijadikan tempat nongkrong pemuda-pemudi gitu.

Ada wahana bermain untuk anak juga ternyata di Alun-alun, bisa menikmati pemandangan kota wisata Batu dari atas , lho genk.. Mau coba?


Atau yang hobi foto seperti saya? Silahkan. Sambil makan es krim dan menikmati udara dingin yang semakin menyerang walaupun sudah siang. Jangan lupa jaga kebersihan. Nanti bisa-bisa dikenakan sanksi sama petugas sini. hoohoo..


Selasa, 02 Februari 2016

Menyanyi Dan Berfoto Ria Hobiku - Belajar Menulis 2


Membicarakan soal hobi? Hobiku menyanyi dan berfoto ria. Memang aku tidak punya suara yang cukup bagus, wajahku juga tak begitu menarik. Tapi apa salahnya? Hanya sekedar berfoto dan menyanyi, kurasa semua orang biasa melakukannya. 

Hampir semua aktifitas yang ku kerjakan tak lepas dari menyanyi. Berbagai genre musik aku menyukainya. Kecuali musik bergenre jawa dan kedaerahan. Musik pop, dangdut, religi, jazz, bahkan musik mancanegara, aku menyukai semuanya. Sebenarnya hobi menyanyi itu hanya untuk kesenanganku sendiri.

Aku sama sekali tidak pernah mencoba untuk mengikuti lomba menyanyi atau audisi sejenisnya. Akupun jarang mengikuti acara-acara bermusik. Terakhir aku bernyanyi didepan umum, ketika aku masih duduk di bangku SD. Lagu bergenre religi yang ku nyanyikan dengan kepolosan anak-anak pada umumnya itu, aku mendapatkan peringkat ke 3 dengan kategori penyanyi religi terbaik. Aku sendiri tak menyangka, bisa mengalahkan beberapa peserta yang lain dan masuk kategori 3 besar. Menurutku, itu hal terlucu.

Sampai akhirnya aku beranjak remaja, musik dan menyanyi adalah bumbu dari kegiatanku sehari-hari. Meski aku tidak pernah ingin dan tidak ada dukungan untuk menyalurkan atau mengembangkan hobi menyanyiku, aku biarkan saja. Yang penting aku tetap bisa menyanyi untuk kepuasan sendiri.

Dengan berkembangnya teknologi, semua serba canggih. Tak perlu lagi membawa radio atau CD player beserta perangkatnya untuk mendengarkan musik. Hanya perlu membawa telepon genggam (handphone) yang lengkap dengan fitur-fitur keren, seperti mp3, kamera, 3G, dsb.

Tinggal pencet dan langsung bisa mendengarkan musik dimanapun. Ditambah dengan perangkat Handsfree, menjadikan penggemar musik menjadi lebih nyaman dan praktis tanpa mengganggu orang-orang yang ada disekitar kita.

Sambil mendengarkan musik, tidak terasa lengkap kalau fitur “Kamera” tidak digunakan. Dengan berbagai action dan gaya yang menurutku keren, langsung saja jeprat-jepret sesuka hati. Awalnya aku hanya melakukan berfoto ria di kamar, karena aku malu jika ada orang yang melihatnya. Tapi, lama kelamaan tidak ada lagi rasa malu jika hanya untuk berfoto. Dimanapun dan kapanpun. Bertemu teman lama atau dalam acara apapun terasa hambar bagiku jika tanpa berfoto ria.
Sampai-sampai foto-foto Selfie itu memenuhi di album foto Social mediaku. Mungkin orang-orang sampai bosan melihat foto-fotoku setiap hari. Hahay. 

“Dasar narsist”. Begitulah mereka mengataiku. Biarkan saja, namanya juga hobi. selama tidak menyalahi aturan, tidak ada salahnya kan? Tetap saja bermusik dan berfoto adalah hobiku. 


Ya...untung 
saja, aku memiliki teman-teman yang kebanyakan memiliki hobi yang sama. Jadi setiap kami bertemu, terasa klop dan lengkap. Bermusik sesuka hati dan berfoto ria menjadi faktor kebersamaan. Aku cinta musik, aku suka berfoto ria.
  


**************
Tulisan ini aku buat pada minggu kedua pertemuan kelas menulis. Masih acak-acakan, sih. Maklum, namanya juga masih belajar. Sayangnya, tulisan itu menjadi akhir dari kelas menulis. Setelah itu, tidak ada lagi kegiatan tulis menulis karena sesuatu hal yang tidak bisa ku jelaskan. 
Oh,. Sungguh aku sangat merindukan saat-saat seperti itu. Aku akan tetap Menjaga Cintamu disini, Mendekapnya, Meski tanpa-mu.. 

Senin, 01 Februari 2016

Berawal Tidak Suka Menjadi Bangga - Belajar Menulis 1


Ku awali kisahku dengan sebuah pengenalan, Aku Kamilla. Hanya seorang anak yang berpostur tinggi kurus. Aku cenderung pendiam, cengeng, dan sering sakit-sakitan. Tapi aku bisa dikategorikan siswa pintar menurut guruku. Mereka sering berucap “Air tenang menghanyutkan” ketika mereka membicarakan aku. Dan, aku bisa dikatakan anak yang paling PELIT. Aku selalu pelit setiap Ujian. Tidak pernah mencontek ataupun memberikan contekan kepada kawanku, sedikitpun!

Sebelumnya aku bersekolah di SMPN 02 PUGER, aku terpaksa pindah SEKOLAH, hanya dengan 1 alasan saja. Itu semua karena aku jatuh sakit terlalu lama. Hampir 2 bulan terbaring sakit. Tepat 15 februari 2007, terjadilah sebuah perpisahan. Tangis pilu saat aku harus meninggalkan kawan-kawanku, sahabatku, dan semuanya di SMPN. Dan Hari itu pula, semua menjadi saksi saat aku pertama kali menginjakkan kaki dan bersekolah di SMP ALHIDAYAH.

Hari pertama di ALHIDAYAH, sangat membosankan. Aku tidak punya kawan, tidak bisa bergurau bebas, tidak bisa curhat, dan masih banyak hal yang membosakan lagi. Yang ku dengar, ku lihat, dan kurasa setiap hari hanya celoteh-celoteh tak sedap dari kawan-kawan baruku, terlebih lagi dewan guru. Bahkan dari mereka ada yang bilang kalau aku tidak punya mata, tidak bisa melihat hal yang lebih baik. Namun beberapa hari di Alhidayah, telingaku sudah cukup kebal dengan berbagai celoteh mereka semua. Aku berusaha menganggap mereka hanya seperti anjing menggonggong saja.

Sekitar pertengahan maret, ada UTS (Ulangan tengah semester). Aku yang sebelumnya hanya mengenal Pendidikan Islam terpadu saat di SMPN, benar-benar terasa sedikit bingung saat aku harus dihadapkan dengan 5 pelajaran PAI sekaligus. Jujur saja, aku mengenal pelajaran Fiqih, Qur’an hadits, Aswaja, SKI, dan Bahasa arab, terakhir kali hanya ketika aku masih TPQ waktu kelas 5 SD. Aduuhh..kacau !. tapi aku tetap mengerjakan semua soal – soal UTS dengan penuh semangat. Aku selalu selesai lebih dulu saat mengerjakan soal. Aku tinggalkan begitu saja kawan-kawanku yang masih sibuk mencari contekan kesana-kemari. Tidak sedikit dari mereka yang memanggilku beberapa kali untuk minta jawaban dari soal-soal tersebut, namun aku cuek saja. Karena aku paling tidak suka hal Mencontek saat ujian.

Saat penerimaan raport UTS, aku tercengang tidak percaya. Aku terkejut saat wali kelasku membacakan hasil terbaik dari UTS tersebut. Berulang kali namaku disebut, dan aku ternyata bisa menguasai 95% dari semua pelajaran, termasuk 5 pelajaran PAI yang sebelumnya aku tidak pernah mengenal lebih lanjut. Bahkan kawan-kawanku yang telah lama bersekolah di alhidayah, nilai-nilai mereka masih jauh dibawah nilaiku. Aku juga baru sadar, ternyata aku masuk di kelas yang levelnya paling rendah alias kelas yang penghuninya paling tidak bermutu.

Ya Allah..pantas saja. Aku siswi baru, dan merasa tidak punya saingan di kelas itu. Dan sejak hari itu, mereka mulai baik terhadapku. Celoteh tak sedap yang biasanya sering ku dengar, kini berganti dengan ucapan-ucapan kagum dan heran dari mereka. Tak sedikit pula dari mereka yang ingin belajar bersamaku.Dan saat itulah, aku baru menemukan sosok Kawan yang sesungguhnya.

Seperti biasanya, setelah UTS selalu ada classmeeting. Mungkin selama 1 minggu jarang ada pelajaran. Rasa bosan akhirnya kembali kurasakan. Aku yang biasanya sebagai siswa aktif saat di SMPN, sungguh sangat berbeda saat di ALHIDAYAH. Kegiatan di sekolah tiap hari hanya datang, duduk, diam, belajar, dan pulang. Padahal biasanya aku mengikuti banyak kegiatan seperti Pengurus Mading, Karya Ilmiah Remaja, PMR, hingga Pelatihan baris-berbaris.

Begitu banyak perbedaan diantara 2 sekolah tersebut, entah karena apa. Aku sendiri tidak mengerti. Aku berusaha menikmati, dan tetap mempertahankan prestasiku meski di ALHIDAYAH tetap tidak ada satupun kegiatan ekstrakurikuler.

Semua kembali berubah saat aku naik ke kelas 3. Aku tidak lagi dikelas rendahan. Tapi aku masuk kelas unggulan. Tentu aku merasa bahagia. Aku merasa ada persaingan yang sempurna. Aku juga menemukan beberapa sosok sahabat terbaik yang akhirnya sepakat membuat sebuah Genk. Genk “KakaWidii’s_forever” yang terdiri dari 5 anak itulah yang membuat aku tidak lagi merasa bosan. Setiap hari penuh tawa, canda, dan kebersamaan. Meski rumah kami berjauhan, tapi setiap masuk gerbang sekolah dan pulang sekolah, kami selalu bersamaan. Aneh memang, padahal kami berlima juga beda kelas. Tapi kebersamaan itu tidak bisa berlangsung lama, karena kelas 3 sudah disibukkan dengan berbagai ujian di sekolah. Mulai dari Try out, Ujian Praktek, Ujian Sekolah, Ujian Maarif, Tes Potensi Akademik, dsb. Kami juga tahu, meski suatu saat kami akan berpisah. Berpisah karena perbedaan tujuan. Dan kami berlima menghargai hal tersebut. Sudah menjadi resiko kami berlima.

Dengan berbagai kesibukan belajar kala itu, aku tidak lagi merindukan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang dulu pernah aku ikuti. Aku fokus belajar dan belajar. Menurutku, ALHIDAYAH juga hampir tidak kalah dari sekolah-sekolah lain yang selokal. Aku juga baru sadar, sebenarnya sekolah dimana saja, itu pada dasarnya sama. Sama-sama saling menuntut ilmu, hanya saja tergantung dari cara dan niat masing-masing. Aku mulai bangga sekolah di ALHIDAYAH, tidak lagi aku resah. Yang ada dipikiranku saat itu hanya sebuah kata “LULUS”, terlebih lagi aku ingin mengembalikan nama baik ALHIDAYAH di mata masyarakat sekitar.

Dan Ujian Nasional pun tiba. Dengan penuh semangat, optimis, dan keyakinan, aku mengahadapi ujian. Hanya berbekal belajar, do’a, dan kebersamaan, semua berjalan lancar hingga ujian selesai. Ketika hasil ujian telah di umumkan, disitulah terjadi kesan yang begitu mendalam. Aku masih ingat betul, saat menatap wajah kawan-kawan yang penuh ketegangan.

Aku sendiri sebenarnya juga tegang. Sampai-sampai kawanku ada yang menangis bahkan pingsan karena sangat tegang dan takut. Ketika surat kelulusan dibagikan dan dibuka bersama-sama, disitulah kami berteriak hampir bersamaan .“Aku LULUS..! Aku LULUS “. Tangis bahagia menyertai saat saling berpelukan. Aku bertambah bahagia, ketika kepala sekolah mengumumkan bahwa aku masuk nominasi 10 besar dan aku masuk urutan ke 8. Ya allah..Sungguh hal yang tak akan terlupakan.

Aku bangga, meski aku sekolah di alhidayah. Sekolah yang dulunya sama sekali tidak pernah aku impikan. Aku tetap bisa membuktikan, kalau aku bisa mempertahankan prestasiku di Alhidayah. Bahkan tidak hanya mempertahankan, aku bisa menaikkan prestasiku meski belum terlalu tinggi. tapi setidaknya, perjuangan aku dan mereka semua bisa sedikit mengembalikan nama baik ALHIDAYAH di mata masyarakat luas.

Dari ALHIDAYAH, aku mempunyai banyak teman, Aku temukan sahabat terbaik, aku temukan hal-hal baru yang sebelumnya aku tidak tahu, aku dapatkan ilmu yang lebih banyak lagi, Dan setiap melihat nilai-nilai ujianku kala itu, aku selalu berkata dalam hati, “Aku bangga pernah sekolah di ALHIDAYAH”.


********************

Tulisan ini aku buat pertama kali, Kalau tidak salah sekitaran bulan Mei 2014. Ketika seseorang yang sangat ku hargai rela berbagi ilmu dan mengajariku menulis. Bukan hanya aku, tapi murid-murid kelas menulis. "De'.. sebagai penulis pemula, tulisanmu sudah sangat bagus. Kamu hanya perlu terus belajar dan berlatih"

fuhh rasanya seperti tidak percaya ketika beliau berucap seperti itu padaku. Senang bukan main. Terlebih saat itu aku sudah diam-diam memendam perasaan terhadapnya. hahay.. Terimakasihh untuk segalanya :) :* +Imam Sujaswanto