Minggu, 31 Januari 2016

"EKS IPK Punya Cerita-Bersepeda Karangduren-Bagorejo"



Hari Minggu, 31 Januari 2016. Tepat pukul 07.30 WIB. Sekitar 12 anak Eks IPK bersemangat mengayuh sepedanya. Karangduren-Bagorejo , saya kira cukup hebat bagi mereka yang tidak terbiasa bersepeda untuk sampai di tempat tujuan yang lumayan jauh. Ditambah lewat jalan-jalan pintas pedalaman yang kondisinya masih kurang baik. Sengaja memang untuk tidak melalui jalan raya, terlalu berbahaya untuk mereka.

Salut, ketika melihat mereka pantang menyerah. meskipun sempat berhenti beberapa kali untuk sekedar melepas lelah. Butuh waktu lumayan lama- 1 Jam- untuk sampai di Pemandian "Agung Tirto Ayu".

Sesampai disana, semua rasa lelah terbayar sudah. Mulai tampak senyum-senyum tipis dan rona kegembiraan dari wajah mereka. Bahkan ada yang sudah mulai mencebur ke kolam. Ada pula yang rela mengantri panjang untuk segera berganti pakaian.





2 jam berenang tidak membuat mereka bosan. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang sudah mulai pucat dan menggigil kedinginan. Ada pula yang sudah berkata, "Kak, aku lapar.."



Akhirnya kami putuskan untuk makan bersama. Menyantap bekal masing-masing yang sudah disiapkan sejak pagi. Kalau saya sih, tidak bawa bekal. hehhe. terimakasih sekali untuk mbak Friska yang sudah berbagi bekalnya. sehingga bisa makan se-porsi berdua denganmu.. hihii.



Saya pikir, setelah makan mereka akan segera mandi dan berganti pakaian lagi lalau segera pulang. eh, ternyata mereka masih ingin berenang lagi.
terpaksa, waktu berenang ditambah 1 jam lagi.


Pada akhirnya, Kami semua pulang tepat pukul 13.00 WIB. Beruntung, cuaca sangat mendukung. hanya saja mereka harus lebih ekstra tenaga untuk mengayuh sepeda. Angin cukup kencang. ditambah lagi sepedanya Okta yang tiba-tiba bocor. wahh.. cukup menguras energi.

Bahagianya, mendapat kesempatan untuk mengantarkan dan mengiringi kalian bersepeda. Lain kali, jangan lupa untuk mengajak saya lagi ya. kalau tidak mendadak, nanti saya bisa menyiapkan bekal kecil untuk disantap bersama.

uh.. saya jadi rindu dengan IPK mbak Friska Yuri Prahesti..
Maturnuwunnn sangett ya :)

Kamis, 28 Januari 2016

Tak Berjudul - Puisiku 4



Tatapanmu Menjadi Bahasa
Ombak di Matamu kata-kata
Ketika angin menghempas bulu matamu
Sehelai sajak patah ke dalam rindu

Apakah kau akan memelukku
Lepas tanpa rintang
Seperti daun luruh dari ranting
Meliuk indah di rentang lenganku

Apakah kau ranting yang jatuh ke dalam dadaku
Sebab ku kenali suara
Menjeritkan perih di lambung rindu

Lalu bulan seperti ingin melepaskan baju cahayanya
Ingin tau rasanya hujan

Dan tau rasanya kehilangan


******************
Terimakasih untuk yang terkasih. aku masih menunggu puisimu, pesanmu, suaramu, dan juga hadirmu. Jangan pernah berhenti mencintaiku :*
Ingat, "Kata-katamu adalah nyawa bagi kalimatku". Hahay.

Puisi Untuk Dara - Puisiku 3



Caramu mencintaiku memang luar biasa, Dara.
Terkadang, ada hal yang tak dapat aku lukiskan
Karena semuanya terlalu menyenangkan
Dara, siapa kau sebenarnya? Mengapa kau begitu bermakna?

Aku ingin kita saling mengingat
Aku juga ingin kita ada kenangan manis,
Selalu saling merindukan
Dan selamanya saling menginginkan

Dara, selamat menikmati istirahat malammu
Ada banyak hal yang belum dapat aku sampaikan padamu
Namun aku yakin
Suatu saat nanti kau pasti dapat menyempurnakan semuanya

Dara, tidurlah malam ini dengan nyenyak
Dan bila kau bersedia bangunkan aku saat fajar telah berufuk
Agar aku dapat belajar menerima kenyataan
Bahwa untuk sementara ini kau hanya cukup aku harap

Dara, dadaku masih terasa sangat kaku
Darahku masih seperti berhenti mengalir
Semuanya terjadi karena aku masih belum percaya
Bahwa malam ini kita berpisah untuk sementara

Tittip rinduku disana
Dekaplah meski tanpa diriku
Dara, bersabarlah..

Aku mencintaimu





*******************
Puisi ini sebenarnya terbentuk dari rangkaian beberapa sms yang setiap malamnya di kirimkan kepada saya oleh yang "terkasih". hehehee
Terimakasihh untuk cinta yang telah kau berikan :*

Siapa Aku? - Puisiku 2


Siapa diriku?
Ingin menghalangi gelombang menyerang
Menyapu bersih setiap kenangan tertulis di tepian pantai menghilang

Siapa aku?
Berusaha berteriak melarang hembusan angin yang semakin kencang
Menumbangkan pohon-pohon kasih sayang

Berhak-kah Aku?
Menghentikan badai tanpa gentar menerjang
Mengais luka yang kian meradang


Haruskah aku?
Menghalangi burung-burung terbang menjauh
Meninggalkan puing-puing harapan yang terlanjur runtuh

Sanggupkah aku?
Memaksa bebatuan berbicara di keheningan malam
Menghentikan hampa yang kian mencekam

Namun, Mampukah aku?
Tetap Berdiri tegak setegar karang
Tak peduli seberapa kuat ombak menghempas tanpa curang

Rabu, 27 Januari 2016

Perih Sendiri - Puisiku



Aku lelah
Sendiri mengejar mentari yang tak lagi memancarkan kehangatan
Semakin menjauh....perlahan menghilang

Aku letih
Sendiri menanti pelangi yang tak lagi mewarnai
Samar...lalu menghilang

Aku rapuh
Rembulan pun enggan berbagi sinarnya
Malamku gelap

Aku tak berdaya
Melihat sang bintang mengingkari janjinya
Malamku hampa

Aku terjatuh
Badai terus menerpa, melukai
Menertawakan setiap kesah dan keluh

Aku tak percaya
Sang surya tega membiarkanku terluka
Meninggalkanku di tengah gelap gulita penuh derita

Aku pun menangis
Menahan perih yang tak kunjung habis
Hatiku teriris mendengar bunga-bunga ikut menangis

Sendiri, rasakan perih ini
Namun aku masih menanti
Berharap Sang bintang dan Sang surya datang lagi